Rabu, 27 Oktober 2010

 KOMPUTER MASA DEPAN
Tentunya seiring dengan perkembangan zaman, dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat, bukanlah mustahil bagi manusia untuk menikmati berbagai layanan yang semakin canggih, begitu juga dengan komputer, NEC Design Ltd sebuah lembaga di jepang menawarkan sebuah konsep baru yang mungkin akan mengejutkan anda, saya sangat yakin bahwa beberapa konsep berikut berpotensi untuk merubah wajah dari PC (Personal Computer) di masa mendatang. anda ingin tahu lebih lengkap tentang konsep komputer masa depan ini?? Temukan jawaban dari penasaran anda mengenai Kecanggihan Konsep Komputer Masa Depan


Komputer Model Pena


anda pasti sulit untuk mempercayai bentuk dan model dari komputer masa depan ini, boleh percaya dan boleh juga tidak. ini adalah beberapa gambar dari model komputer pena tersebut

Coba lihat baik baik, apakah itu hanya sekedar pena dengan kamera?? Tentu saja tidak.. itu jauh lebih canggih dari yang kalian bayangkan.. mari kita lihat dengan jelas fungsi dari pena ini.
Wow.. Keren kan?? dengan begini kita bisa mengucapkan "selamat tinggal Laptop"

Itu di sebut P-ISM sebagaimana dijelaskan oleh desainer NEC sebagai "Pen-style Personal Networking Gadget Package" (sedikit info "Pism pada P-ISM" dalam bahasa rusia berarti tulisan). Prototipe model ini diperkirakan senilai $30.000 atau sekitar 300an juta rupiah.


P-ISM terhubung satu sama lain dengan technology wireless yang berdekatan. model ini juga bisa tersambung dengan internet menggunakan fungsi telepon selular pada P-ISM ini.. Gadget personal ini bergaya pena minimalis yang mempunyai fitur yang Luar biasa Lengkap.

Awalnya kita berpikir bahwa model teknologi laptop "Keyboard dan layar" akan bertahan lama. namun tidak bisa kita pungkiri bahwa pena dan kertas adalah alat tulis dan simbol yang secara alami kita terima, hanya tinggal masalah waktu saja sampai seseorang menemukan produk Canggih terbaru yang berkedok sebagai "Pena Pintar" ataupun "Kertas Pintar"

Jadi wajar saja jika mempunyai harga $30.000 hehehe nantikan kehadiran gadget ini mungkin 10 tahun lagi di indonesia.. Saya mohon dengan sangat.. Hargai Hasil Karya Penulis.. dengan tidak mempublikasikan ulang artikel ini tanpa seizin penulis.


Sumber   :http://www.google.co.id/imglanding?q=komputer+masa+depan&hl=id&sa=G&gbv=2&tbs=isch:1&tbnid=rQpkBDGNVBatlM:&imgrefurl=http://kartolocyber.blogspot.com/2010/07/teknologi-komputer-masa-depan.html&imgurl=https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOz_vIOTRZIyNnqCLk_mYVCn0lEBqBVQUzgO5vjMqU7e4llYkD_r0yzIn6GsquLxZv-3z9yR64fuPuv8juOrfHZfQ4ipateuE9QwJyM4OVXu8ws3yiwY9Koyuhfp6aJu7uyI4lyCAxv9Jc/s400/image005.jpg&zoom=1&w=384&h=328&iact=hc&ei=XPfITNnLJIHvcLjK1I8O&oei=XPfITNnLJIHvcLjK1I8O&esq=1&page=1&tbnh=134&tbnw=173&start=0&ndsp=6&ved=1t:429,r:3,s:0&biw=800&bih=408

Sabtu, 16 Oktober 2010

Indikasi Kehancuran Indonesia
Minggu, 17 Oktober 2010 | 03:47 WIB

Tribun Kaltim/Niko Ruru
Sekitar seribu orang berkumpul di depan kantor Persatuan Suku Asli Kalimantan (Pusaka) di Kota Tarakan, Kalimantan Timur. Banyak yang membawa senjata tajam berupa samurai, tombak, dan parang. Ketegangan ini dilatari persoalan antarindividu tapi kemudian dikompori jadi antaretnis.
JAKARTA, KOMPAS.com - Romo Franz Magnis-Suseno SJ, rohaniwan dan cendikiawan sosial, mengatakan jika rasa kebangsaan itu mati, bangsa dan negara Indonesia akan hancur.
"Soalnya, yang mempersatukan ratusan etnik, suku dan komunitas, penganut beberapa agama, yang hidup di atas ribuan pulau kita, hanyalah kebangsaan Indonesia. Tak ada yang lain," katanya ketika menjadi pembicara pada Seminar Nasional yang diselenggarakan Partai Golkar (PG), di Jakarta, Sabtu (16/10/2010) malam.

Seminar bertajuk "Penataan Sistem Politik untuk Memperkokoh Nasionalisme dan Demokrasi Indonesia" ini digelar guna menyemarakkan HUT ke-46 partai berlambang pohon beringin tersebut, yang berlangsung di Aula DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat.  Di hadapan lebih 200 peserta dari berbagai latar, baik itu kalangan muda maupun politisi senior, Romo Franz Magnis-Suseno mengawali pemaparannya berjudul "Indonesia dan Nasionalismenya" dengan mengulas Pidato Bung Karno tanggal 1 Juni 1945.

"Di sana Bung Karno menempatkan ’nasionalisme’ di nomor satu dari deretan lima nilai Pancasila. Soekarno tahu mengapa," ujarnya. Yakni, lanjutnya, hanya karena kesadaran "kita ini satu bangsa, yakni bangsa Indoensia", sehingga masyarakat sedemikian aneka ragam yang hidup di Kepulauan Nusantara, antara Asia dan Australia atau Oseania, bisa menjadi satu Indonesia.

"Tegasnya, bagi Bung Karno, Nasionalisme adalah cinta sepenuh hati kepada Indonesia, dan rasa bangga bahwa ’kita orang Indonesia". Inilah suatu rasa persatuan di antara orang-orang yang sedemikian berbeda, yang terbangun dalam sebuah sejarah penderitaan karena penjajahan dan perjuangan pembebasan bersama selama ratusan tahun," ujarnya.
   
Sekarang, menurutnya, setelah 65 tahun kemudian, banyak orang bertanya: Apakah kebangsaan Indonesia masih berarti sesuatu bagi bangsa kita? "Lebih dari itu, muncul juga pertanyaan, apakah kenyataan bahwa kita ini Orang Indonesia masih dapat menggerakkan sesuatu dalam hati kita? Padahal, bagi Soekarno, kebangsaan merupakan sila paling inti, paling berharga dalam Pancasila," katanya.

Dan bagi Romo Franz Magnis-Suseno, "hanya karena kebangsaan inilah, sehingga bangsa Indonesia ada". 

Selain Romo Franz Magnis-Suseno, juga tampil antara lain cendikiawan muslim Azyumardi Azra (dengan makalahnya "Nasionalisme, Etnisitas, dan Agama di Indonesia: Dinamika Hubungan Antar Masyarakat dan Negara"), Letjen TNI Pur Agus Widjojo (dengan makalah "Masalah Pertahanan dalam Era Nasionalisme Modern"), Ketua Program Pascasarjana Ilmu Politik FISIP UI, Dr Valina Singka Subekti, MSi ("Aspek-aspek Perbaikan Sistem Politik Indonesia") dan Dr Pratikno dari UGM ("Memperdalam Demokrsi, Mengefektifkan Pemerintahan").
   
"Kegiatan ini merupakan salah satu agenda utama HUT, selain Rapimnas Pertama," kata Wakil Ketua Umum DPP PG, Theo L Sambuaga, usai mendampingi Ketua Umum DPP PG, Aburizal Bakrie membuka resmi rangkaian perayaan hari jadi partai Golkar.
Indikasi Kehancuran Indonesia
Minggu, 17 Oktober 2010 | 03:47 WIB

Tribun Kaltim/Niko Ruru
Sekitar seribu orang berkumpul di depan kantor Persatuan Suku Asli Kalimantan (Pusaka) di Kota Tarakan, Kalimantan Timur. Banyak yang membawa senjata tajam berupa samurai, tombak, dan parang. Ketegangan ini dilatari persoalan antarindividu tapi kemudian dikompori jadi antaretnis.
JAKARTA, KOMPAS.com - Romo Franz Magnis-Suseno SJ, rohaniwan dan cendikiawan sosial, mengatakan jika rasa kebangsaan itu mati, bangsa dan negara Indonesia akan hancur.
"Soalnya, yang mempersatukan ratusan etnik, suku dan komunitas, penganut beberapa agama, yang hidup di atas ribuan pulau kita, hanyalah kebangsaan Indonesia. Tak ada yang lain," katanya ketika menjadi pembicara pada Seminar Nasional yang diselenggarakan Partai Golkar (PG), di Jakarta, Sabtu (16/10/2010) malam.

Seminar bertajuk "Penataan Sistem Politik untuk Memperkokoh Nasionalisme dan Demokrasi Indonesia" ini digelar guna menyemarakkan HUT ke-46 partai berlambang pohon beringin tersebut, yang berlangsung di Aula DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat.  Di hadapan lebih 200 peserta dari berbagai latar, baik itu kalangan muda maupun politisi senior, Romo Franz Magnis-Suseno mengawali pemaparannya berjudul "Indonesia dan Nasionalismenya" dengan mengulas Pidato Bung Karno tanggal 1 Juni 1945.

"Di sana Bung Karno menempatkan ’nasionalisme’ di nomor satu dari deretan lima nilai Pancasila. Soekarno tahu mengapa," ujarnya. Yakni, lanjutnya, hanya karena kesadaran "kita ini satu bangsa, yakni bangsa Indoensia", sehingga masyarakat sedemikian aneka ragam yang hidup di Kepulauan Nusantara, antara Asia dan Australia atau Oseania, bisa menjadi satu Indonesia.

"Tegasnya, bagi Bung Karno, Nasionalisme adalah cinta sepenuh hati kepada Indonesia, dan rasa bangga bahwa ’kita orang Indonesia". Inilah suatu rasa persatuan di antara orang-orang yang sedemikian berbeda, yang terbangun dalam sebuah sejarah penderitaan karena penjajahan dan perjuangan pembebasan bersama selama ratusan tahun," ujarnya.
   
Sekarang, menurutnya, setelah 65 tahun kemudian, banyak orang bertanya: Apakah kebangsaan Indonesia masih berarti sesuatu bagi bangsa kita? "Lebih dari itu, muncul juga pertanyaan, apakah kenyataan bahwa kita ini Orang Indonesia masih dapat menggerakkan sesuatu dalam hati kita? Padahal, bagi Soekarno, kebangsaan merupakan sila paling inti, paling berharga dalam Pancasila," katanya.

Dan bagi Romo Franz Magnis-Suseno, "hanya karena kebangsaan inilah, sehingga bangsa Indonesia ada". 

Selain Romo Franz Magnis-Suseno, juga tampil antara lain cendikiawan muslim Azyumardi Azra (dengan makalahnya "Nasionalisme, Etnisitas, dan Agama di Indonesia: Dinamika Hubungan Antar Masyarakat dan Negara"), Letjen TNI Pur Agus Widjojo (dengan makalah "Masalah Pertahanan dalam Era Nasionalisme Modern"), Ketua Program Pascasarjana Ilmu Politik FISIP UI, Dr Valina Singka Subekti, MSi ("Aspek-aspek Perbaikan Sistem Politik Indonesia") dan Dr Pratikno dari UGM ("Memperdalam Demokrsi, Mengefektifkan Pemerintahan").
   
"Kegiatan ini merupakan salah satu agenda utama HUT, selain Rapimnas Pertama," kata Wakil Ketua Umum DPP PG, Theo L Sambuaga, usai mendampingi Ketua Umum DPP PG, Aburizal Bakrie membuka resmi rangkaian perayaan hari jadi partai Golkar.